Sejenak keraguan itu datang menghampiriku. Ah mungkin ini hanya keraguanku sesaat padamu pikirku waktu itu. Waktu terus bergulir, kebersamaanku denganmupun terus berjalan seperti biasanya. Tawa itu masih menghiasi hari-hari kita. Pertengkaran kecil itupun terus membumbui perjalanan kita. Hanya saja ketika aku membuka pembicaraan tentang masa depan, kamu selalu mengalihkan pembicaraan itu. Selain itu, semuanya berjalan seperti biasa dan tampak baik-baik saja.

TAMPAK. Iya definisi kata itu adalah untuk sesuatu yang terlihat. Tapi apa kamu bisa melihat hatiku? Aku dan kamu tampak baik-baik saja. Tapi tidak dengan hatiku untukmu.Hati ini memang tak tampak. Ketika kamu berhasil mengalihkan pembicaraan tentang masa depan kita, akupun selalu tampak tertawa menanggapi semua candamu. Tapi kamu tak pernah menyadari ketika perbincangan ini berhasil teralihkan, hatiku yang menanti jawabmu ini kembali menangis. Dan tangisan hatiku ini juga memang tak tampak olehmu. Entah aku harus bersyukur atau tidak atas ketidak tampakan semua rasa di hatiku ini.

Hari-hari terus kulewati dengan menutupi semua perasaan yang memang sudah seharusnya tak tampak ini. Hingga akhirnya ada satu titik perasaan lagi yang tak dapat kututupi, perasaan lelah. Aku lelah tertawa di atas tangisku. Aku lelah meyakinkan diriku sendiri. Aku lelah menjawab semua tanya mereka dengan senyumku. Dan aku lelah menutupi keraguanku ini di hadapanmu.

Hanya kamu yang bisa menjawab keraguanku ini. Iya hanya kamu! Dan akhirnya aku memutuskan untuk menyampaikan semua ragu ini padamu. Semoga ini memang keputusan terbaik yang ku ambil.

Hari itu, kusampaikan semuanya kepadamu. Dan kamu hanya terdiam dan terus terdiam sampai aku selesai mengungkapkan semua. Usai itu kamu menunduk dengan raut muka kecewa. Aku menangis, aku tak sanggup melihat kekecewaan yang tergurat di wajahmu. Tampaknya kamu sedang menyusun kata untuk menjawab semua raguku itu. Aku masih menangis dan tiba-tiba kamu menatapku dan berkata,

“Kamu ragu padaku?Asal kamu tau..meskipun aku tak pernah membahas masa depan kita tapi aku selalu memikirkannya. Dan jika kamu sekarang ragu padaku, aku akan berkata jujur.Keraguan itu tak pernah singgah sama sekali di hatiku. Karena aku yakin..kamulah calon ibu dari anak-anakku nanti..”

Air mata itu tiba-tiba mengalir makin deras tapi kali ini dengan perasaan yang berbeda.. Aku menangis dengan hati tersenyum. Dan keraguan itu seketika menghilang dari hatiku.. Ah mungkin yang kurasakan saat itu bukan keraguan tapi sekedar kekhawatiran akan kelanjutan hubungan kita.

Kamu kembali menatapku dan bertanya,“Kamu masih ragu padaku?”

Dan untuk pertama kalinya dengan yakin kugelengkan kepalaku sambil mengurai senyumku padamu

Iklan