Hari itu

Dingin yang kurasa

Bukan hanya dingin karena hujan di luar

Tapi juga dinginnya sikapmu membuatku merasa terasing disini

Kau terdiam

Hanya derasnya hujan di luar yang terdengar saat itu

Kucoba membuka pembicaraan

Tapi aku seperti berbicara dengan hujan

Sepertinya hanya suara hujan itu yang menyambut semua pertanyaan-pertanyaanku

Sedangkan kamu? Tetap diam tanpa menatapku

Aku mencoba mencari kehangatan itu

Kehangatan yang dulu selalu kau berikan ketika kita tertawa bersama

Tapi semuanya sia-sia

Mungkin kehangatan itu sudah disapu bersih oleh derasnya hujan yang turun hari ini

Aku disini karena aku ingin bercerita banyak hal padamu

Tapi mungkin kamu disini hanya sekedar untuk memenuhi kemauanku saja tanpa ada maumu

Aku disini karena aku rindu semua tawa itu

Tapi mungkin kamu disini hanya karena ingin bersembunyi dari derasnya hujan di luar

Aku disini karena aku rindu semua canda kita

Tapi mungkin kamu disini hanya ingin diam tanpa menatapku

Hujan di luar mulai mereda

Aku tahu sebentar lagi kau akan segera beranjak dari hadapanku

Matahari perlahan mulai memberanikan menunjukkan dirinya

Dan akupun memberanikan diri untuk menanyakan satu pertanyaan ini

“Kita? Bagaimana tentang kita?”

Kau melihat keluar, menatap sisa-sisa hujan di luar lalu menatapku dan berkata

“Hujan sudah reda..sebaiknya aku dan kamu cepat pulang masing-masing …”

Apa ini jawabannya?

Apa maksud aku dan kamu pulang masing-masing itu pertanda sudah tak ada kita?

Aku kembali bertanya

“Apa itu tandanya ….. “

Kamu cepat-cepat mengangguk sebelum aku selesai bertanya

“Tapi apa alasannya ?”

Kamu hanya menggelengkan kepalamu dan tetap terdiam

Aku tertunduk, rasanya ingin kujeritkan semua ini

Andai kamu berkata tentang semua ini saat hujan mungkin aku akan menjerit bersama dengan suara guntur yang bersaut-sautan tadi

Lalu kamu tiba-tiba memegang tanganku dan berkata

“Jaga dirimu .. Aku pergi …”

Aku tersentak, ingin rasanya aku menarik tanganmu itu tapi terlambat

Kamu terlalu cepat menarik tanganmu dari genggamanku

Kamupun pergi keluar dari kedai kopi itu

Aku menatap punggungmu sambil berharap kamu akan menengok ke belakang

Perlahan tapi pasti kamu menjauh dan menghilang di tengah keramaian itu tanpa menengok ke belakang

Aku terdiam dengan seribu tanya di fikiranku, menatap keluar, kulihat matahari sudah tak ragu-ragu lagi menampakkan sinarnya bersama awan-awan di sekitarnya

Dan kulihat di sebelah barat sana, ada ukiran indah Sang Pencipta setelah hujan deras tadi

Sang Pelangi menghiasi langit itu, aku tersenyum melihatnya, indah sekali fikirku

Dalam hatiku aku terus bertanya-tanya

Kamu?Apa kamu hanya awan-awan yang senantiasa menghiasi langit-langitku saja? Lalu jika kamu hanya menjadi awan-awanku, siapa yang akan menjadi matahariku? Tapi bukankah pelangi tak selalu ada setiap setelah hujan? Ataukah sebenarnya kamulah matahari yang nantinya akan membantuku membuat keindahan pelangi itu?

Biarlah aku berikan kesempatan pada sang waktu untuk membantuku menjawab semua tanya ini nanti

Tapi izinkan aku berterimakasih padamu karena kamu sudah menghiasi langit-langitku selama ini

Mungkin saat ini aku berfikir kamu hanyalah sebuah awan yang bisa datang dan pergi menghiasi langitku tanpa alasan apapun

Iklan