Mei 2010


Semu
Terkadang harapan itu menjadi semu
Bahkan sesekali terasa hanya imajiku belaka

Yakin
Rasa ini tak pernah hilang dari hatiku
Bahkan ketika hatimu sempat tak bertaut kepadaku, aku tetap yakin

Takdir
Inilah yang menentukan segalanya
Ketika kita sudah berusaha, dan takdir inilah yang akan menentukan jalan kita

Harapan itu masih ada di sana
Meski sesekali aku merasa itu semu
Tapi aku yakin di penghujung jalan yang kita bahkan tak tau dimana
Kita akan dipertemukan oleh takdir-Nya untuk saling menautkan cincin indah itu di jemari kita

“Dan Tuhan..aku kembali memohon izin-Mu atas harapku ini..”:)

Iklan

Bulan telah usai temani malam

Saatnya matahari kembali bersanding di langit

Memberi sinaran setelah gelapnya malam

Menebarkan kehangatan usai dinginnya malam

Menciptakan kembali keramaian setelah sepinya malam

Menghiasi langit dengan cahaya terindahnya

Kemudian membuka kembali hari baruku tanpa dirimu

Gelap, dingin dan sepi masih kurasa tanpamu

Kini di hadapan matahari pagi aku kembali bertanya,

“Kapan pagiku akan datang kembali menyapaku?”

Saat tangan ini kembali menulis pesan singkat untuk sekedar menyapamu, aku bertanya pada diriku
“Apa ini namanya rindu?”

Ketika garis tawa dari bibirku kembali terukir setelah membaca balasan pesan singkat darimu, aku kembali bertanya pada diriku
“Kenapa rasa bahagia ini muncul saat aku hanya sekedar membaca pesanmu?”

Dan

Setelah aku yakin rasa rindu ini kembali hinggap, aku berkata pada diriku
“Semua ini rasa yang salah karena tak seharusnya rindu ini kuberikan untukmu..”

Jika semua rasa ini memang tidak pada tempatnya, maka ijinkan aku untuk menuliskan kata rinduku di atas pasir ini

Agar aku dapat menyampaikan rinduku ini

Kemudian aku akan duduk di sini menunggu ombak kembali datang dan menghapus rinduku ini padamu

Ini bukan tentang kita

Tapi hanya sekedar tentang aku

Tentang aku yang kembali jatuh dalam pesonamu

Tentang aku yang kembali tak bisa mengatur detak jantungku saat melihat senyumanmu

Tentang aku yang kembali menghadirkan bayangmu dalam gelap cahayaku

Tentang aku yang kembali gagal menghapuskanmu dengan sempurna di hatiku

Tentang aku yang kembali menggelayutkan rindu ini untukmu

Dan ini semua hanya tentang aku yang kembali memiliki sebait rasa ini untukmu setiap kali kau hadir disini

Aku lelah dengan semua semua rasa ini
Bolehkah aku menaikkan kembali sedikit keegoisanku kali ini?

Kamu dan dia..
Aku tau, berulangkali kamu ucapkan rasa itu sudah tak ada lagi
Aku tau, berulangkali kamu yakinkan aku keyakinanmu tentangku
Aku tau, kamu juga berusaha menanamkan kepercayaan itu kembali
Dan akupun tau tak hanya aku yang lelah, tapi kamupun lelah juga dengan rasaku ini

Untuk kesekian kalinya aku akui keegoisanku
Aku egois ketika aku harus sakit ketika kamu hanya sekedar menyapanya
Aku egois ketika aku memintamu untuk tak lagi menghubunginya
Aku egois ketika aku menuntutmu untuk terus menjaga perasaanku ini

Maafkan aku yang egois ini
Aku harap kamu mengerti keegoisanku
Karena dulu kamu yang membuat luka ini
Kemudian kamu pula yang membantuku mengeringkan kembali luka ini
Dan sekarang, luka itu terlalu rentan untuk disentuh

Karena luka lama itu belum sepenuhnya hilang tak berbekas di hatiku

Maafkan aku dengan segala keegoisanku…

Hari itu tidak seperti hari selasa yang seperti biasanya. Hari itu menjadi hari selasa yang spesial karena hari ini dipenuhi oleh banyak senyuman. Senyummu, senyumnya, senyumku, senyum kita semua…:) *kok jadi kayak iklan ya..:D

Kembali pada si topik

Yap..topik hari ini adalah senyum. Hari ini saya niatkan untuk pergi ke RSUD terdekat untuk mengurus surat kesehatan dan segala macamnya yang saya butuhkan untuk memenuhi salahsatu persyaratan cpns yang mungkin tidak perlu saya sebutkan.

Perjalanan saya kali ini dimulai dengan niat untuk keluar dari  ruangan ber-AC dan harus berjuang untuk mencari angkutan umum menuju RSUD terdekat. Kenapa saya menyebutnya berjuang? Karena niat untuk keluar dari ruangan ini merupakan hal tersulit yang akan saya lakukan hari ini. Menatap matahari yang berjuang amat keras menyinari bumi kita inipun membuat saya ikut berjuang keras melawan semua rasa malas untuk beranjak dari tempat ber-AC yang sangat nyaman ini.”Harus pergi sekarang!!”, ucapku menyemangati diri sendiri dalam hati. Saya mulai beranjak dari kursi, menyeret badan keluar gedung sambil menyapa matahari yang bersinar sangat terik.

Perjalanan menuju RSUD itu terasa cukup mengeluarkan beberapa kalori di badan ini karena suasana di dalam angkutan umum ini terasa seperti suasana di dalam sauna. Setengah jam berlalu dan akhirnya sampailah saya di RSUD itu. Setelah turun dari angkutan itu, saya merasa seperti anak hilang disini. Di tengah keramaian lalu lalang orang-orang saya celingukan mencari petunjuk dimana saya bisa mendapatkan surat tanda sehat itu. Kalau di dongeng-dongeng pahlawan seorang putri bisa diandaikan seperti pangeran berkuda putih, maka disini seorang satpam sudah menjelma bagaikan seorang pangeran berkuda putih di mata saya. Dengan keringat yang masih terus mengucur, sayapun menghampiri si pangeran..eh si satpam maksudnya..Dan ia memberikan petunjuk jalan seperti ini,”Mbak lurus aja..nanti ke kanan terus masih lurus..abis itu ke kanan..terus ke kiri..lurus dikit..ke kiri lagi..nanti ada loket 8 disana..” Waktu itu rasanya saya ingin menggambar petunjuk bapak itu, tapi apa daya kertaspun tak saya bawa, dan akhirnya saya terus berjalan sambil berbekalkan satu pesan dalam hati,”Malu bertanya sesat di jalan..daripada sesat di rumah sakit gini malah nyasar kemana-mana..mending nanya melulu deh..” 😀

Saya sudah berusaha sekuat tenaga mengingat petunjuk tadi, tapi entah kenapa loket 8 itu masih abstrak keberadaannya. Saya ingat kok bentuk angka 8 bagaimana, dan saya yakin belum melihat loket itu. Lelah itupun mulai saya rasakan. Saya benar-benar tersesat disini. Kembali saya menanyakan hal yang sama ke salahsatu suster yang melewati saya. Dan perjalanan saya yang melelahkan itupun mulai tak terasa melelahkan darisini, ketika saya bertanya arah jalan dan susternya dengan ramah menjelaskan sambil tersenyum. Ah..andai saya bisa memunculkan jempol seperti yang biasa tampil di facebook maka saya akan memberikan jempol saya sambil berkata LIKE THIS kepada suster itu..:)

Satu senyuman hari ini dan bisa membuatku sedikit melupakan lelahku. Kembali kususuri koridor-koridor itu dan akhirnya saya kembali tersesat..:(( Lagi-lagi saya bertanya kepada suster yang lewat sambil mengharapkan senyuman yang sama. Eh tapi saya berhenti berharap karena dia hanya menjelaskan,”Ke Loket 8 ajah mbak..” dan tanpa babibu dia langsung berjalan kembali. Dan saya?Terpaku, makin bingung. Tapi setelah itu saya pantang menyerah dan mencari tempat terdekat untuk bertanya. Alhamdulillah, di tempat itu saya lagi-lagi disuguhkan senyuman 🙂

Perjuangan saya menemukan loket 8 pun berakhir dan akhirnya saya mendapatkan kejelasan nasib untuk proses-proses selanjutnya. Dan kalian tau apa? Mulai dari pendaftaran, proses pemeriksaan tensi, berat badan, buta warna, pemeriksaan dokter, sampai ke fotokopi untuk legalisir surat sehat semuanya dihiasi oleh senyum dan keramahan mereka. Sampai akhirnya selesai sudahlah perjuangan pencarian surat sehat saya hari ini. Saatnya kembali ke ruang AC itu.

Saat saya berjalan kembali mencari angkutan saya baru merasakan ternyata badan saya sudah mengeluarkan keringat lebih dari sauna semalam..*lebay:D Tapi lelah itu sama sekali tak terasa. Ketika saya coba berfikir ulang lagi, saya baru menyadari ketika semua yang kita kerjakan itu dilakukan dengan ikhlas dan dengan ditemani senyuman kita serta senyuman di sekeliling kita, maka semuanya akan terasa lebih ringan. 🙂

Satu pesan saya hari ini
Tersenyumlah sebanyak-banyaknya hari ini dengan ikhlas, karena senyuman merupakan salah satu kepingan puzzle untuk menyempurnakan setiap hari-harimu dan orang-orang disekitarmu
P.S : Yang baca postingan ini doain saya lulus ya di cpns yang saya perjuangkan ini..:D

Hai lelakiku
Terlalu banyakkah pintaku padamu?

Aku meminta sedikit waktu untuk mendengarkan cerita-cerita kecilku
Apa itu membuatmu bosan?

Aku meminta seutas pesan rindu untukku
Ataukah rindu itu sudah tak ada lagi untukku?

Aku meminta sedikit khawatirmu sekedar menanyakan kabarku
Ataukah khawatirmu padaku itupun sudah hilang?

Semoga memang benar pintaku yang terlalu banyak padamu
Dan bukan asamu padaku yang tanpa kau sadari perlahan mulai menghilang

Laman Berikutnya »