Matahari terus menunggu waktu itu..waktu ia akan diperbolehkan menyapa bumi..

Saat matahari tengah menatap bumi dari kejauhan, Malaikat datang menghampiri matahari dan menyapa nya,”Hai matahari, apa yang sedang kau lakukan?”

Matahari melihat malaikat sambil tersenyum,”Aku hanya sedang menatap bumi..”

Malaikat berkata,”Maukah kau mendengarkan apa yang baru saja aku tanyakan kepada Tuhan?”

Spontan matahari langsung mengalihkan pandangannya dan mengangguk sambil tak sabar menunggu cerita malaikat..

Malaikatpun menceritakan semuanya …

—————————————————————————————————————-
Malaikat yang pada saat itu melihat matahari & bumi sudah begitu serasi pun bertanya kepada tuhan.
“Tuhan, kenapa tidak engkau biarkan saja matahari untuk menyapa bumi, aku yakin mereka akan bahagia, Bukankah matahari sudah terlalu sabar menunggu?”

Tuhanpun menjawab.
“Malaikat.. taukah kau kenapa aku masih menunda mereka untuk saling menyapa dan bertemu?” engkau lihat bumi, Bumi sudah membayangkan matahari akan menyapanya, tapi apa ia sudah mempersiapkan segalanya, ia masih sering malas untuk berotasi, padahal itu sudah menjadi kewajibannya, Bumi sering belum bisa menahan emosinya, bahkan sering menyalahkan matahari untuk sesuatu yang belum bisa dikerjakannya”

Malaikatpun terdiam, dan mencoba berkata lagi
“lantas bagaimana dengan matahari?”

Kali ini tuhanpun tersenyum.
“engkau lihat matahari, dia selalu sabar menunggu untuk menghangatkan bumi, tapi perhatikanlah.. matahari masih sering mengeluh melihat bulan & hujan saling menyapa. Mataharipun masih belum bisa menahan emosi melihat awan-awan bermain kecil diatas bumi, ia selalu ingin hanya sinarnya lah yang pantas dengan bumi. Mataharipun kadang masih mementingkan asik bermain dengan teman-temannya dari pada menemani bumi”

——————————————————————————————————————

Setelah mendengar itu matahari terdiam…

Malaikat bertanya,”Hai matahari..kenapa kau terdiam?”

Matahari menjawabnya ,”Aku hanya berfikir…”

Kalimat itu terputus..Malaikatpun bertanya kembali,”Berfikir?Berfikir apa?

Matahari menjawab,”Jika memang bumi belum siap karena ia malas untuk berotasi, aku akan membantunya untuk bangkit dengan sinarku…jika bumi belum siap untuk menahan emosinya, sesekali aku akan minta bantuan angin dan hujan untuk menghilangkan emosi itu…tapi bagaimana aku dapat menyinari bumi dengan sempurna jika bulan dan hujan terlalu sering menghalangi sampai pada akhirnya aku pun tertutup oleh mereka…dan bukankah itu hal yang wajar apabila matahari hanya ingin sinarnya yang menyinari bumi?Bukankah matahari pun diciptakan satu untuk menyinari satu bumi juga?

Malaikat terdiam…

Melihat Malaikat terdiam, matahari melanjutkan kembali,”Tapi..aku sadar..bukankah matahari, bulan, hujan, angin, dan awan-awan diciptakan untuk menemani bumi?Dan semuanya masing2 memiliki waktunya untuk menyapa bumi..Apa yang terjadi jika hujan dan angin terus menerus?Pasti akan menimbulkan kekacauan di bumi…Lalu bagaimana jika bulan yang menutupi bumi terus menerus? Maka bumi tidak akan pernah merasakan sinaran dari matahari..Dan jika tidak ada awan-awan? Betapa kosongnya bumi tanpa hiasan awan-awan di langit-langitnya..Kami semua mempunyai waktu masing-masing untuk menyapa bumi..tanpa harus menghalangi satu sama lain..Mungkin saat ini Tuhan benar..aku masih terlalu egois sehingga ingin menciptakan siang terus menerus di bumi..

Mendengar jawaban itu kemudian malaikat bertanya kembali,”Lalu apa yang akan kau lakukan?

Matahari menjawab, “Aku akan tetap disini..memandangi bumi yang bertegur sapa dengan bulan dan hujan dan asik bermain dengan awan..Aku akan tetap disini…mencoba menurunkan egoku agar aku bisa ikhlas menerima bumi yang nantinya akan merasakan malam, hujan dan bukan hanya merasakan cahayaku…Aku akan tetap disini..menunggu sampai pada waktunya nanti Tuhan akan berkata, “Ini adalah waktumu….” Ya…aku tetap disini menanti waktu yang tepat…

Matahari kembali terdiam menatap bumi sambil tersenyum…

Kembali Ke HOME

Iklan